Tuesday, October 26, 2010

[Short Story] Violin is My Soul

Aloha minna~

Lama tak jumpa dan tak update, hehe.. gak tau kenapa niatanku buat ngeblog di sini jadi berkurang, sekarang lagi demen ngeblog di Tumblr sih~ XD

Oh iya, kali ini aku mau posting cerpen yang aku buat. Tolong komentarnya ya~ ^^

---x---

Violin is My Soul


"Aku berangkat!"

Alice keluar dari rumah setelah berpamitan dengan ayahnya. Karena kampusnya tak jauh dari rumah, dia cukup berjalan kaki saja. Hari ini dia sangat senang sekali, terlihat dari raut wajahnya yang ceria. Hatinya sungguh bahagia, karena dia sudah mengabulkan sebuah permintaan dari seseorang yang sangat disayangi dan dicintainya. Tidak, bukan untuk kekasihnya. Tapi untuk seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.

"Alice!" tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya. Alice menoleh, ternyata itu adalah Helena yang merupakan teman dekatnya. "Eh, selamat pagi! Kau sendirian saja?" sapa Alice pada Helena. Helena mengangguk, "Iya, aku sendirian saja nih. Tadinya mau diantar Brian, tahunya dia sedang sakit!". Alice hanya tertawa kecil mendengarnya. Yang dia tahu Helena dan Brian adalah teman sedari kecil, pantas saja kalau mereka sering bersama-sama. Helena mulai bersuara lagi, "Oh iya, Alice, aku dengar katanya grup orkestra kampus kita menang dalam perlombaan ya?". Alice tersenyum dan mengangguk, "Iya, kami menang. Dan itu membuatku senang."

Royal College of Music(*), kampus dengan pendidikan musik yang terkenal di London, Inggris. Itulah kampus di mana Alice belajar tentang musik. Alice masuk dan belajar di kampus ini karena dia senang dengan musik, lebih tepatnya dia senang bermain biola. Alice mulai belajar biola dari kecil dan sampai saat ini dia masih sering bermain biola. Dari kecil, dia sudah bercita-cita menjadi seorang pemain biola terkenal. Dan itulah yang menjadi motivasi Alice untuk masuk grup orkestra, langkah awal untuk menjadi seorang pemain biola.

Helena ikut tersenyum, "Baguslah kalau begitu. Katanya kau ingin jadi pemain biola kan?". "Iya, itu impianku. Meskipun di perlombaan itu aku hanya sebagai pemimpin kelompok biola, itu sudah lumayan bagiku. Aku harus meningkatkan kemampuanku lebih dalam lagi." ujar Alice penuh tekad. Helena menepuk-nepuk punggung Alice, "Semoga berhasil teman! Aku mendukungmu lho~".

Ya, dalam perlombaan orkestra dia memimpin bagian kelompok pemain biola. Di perlombaan itu, bagian-bagian dari orkestra tersebut disebutkan oleh pembawa acara. Mulai dari dirigen, pemain piano, pemain biola, pemain cello, dan lain-lain. Pembina grup memilihnya karena sang pembina menilai bahwa Alice memiliki bakat terpendam tentang permainan biola.

Sebenarnya, kemampuan bermain biola milik Alice bisa dibilang kemampuan turunan dari ibunya. Ibu Alice adalah seorang pemain biola terkenal. Selain sebagai pemain biola, ibunya juga seorang pencipta lagu. Entah terpesona atau tertarik dengan kemampuan ibunya, Alice jadi mengikuti jejak karir sang ibu. Namun sayang, ketika dia kelas 2 SMA, ibunya meninggal karena kecelakaan saat pulang dari sebuah konser amal.

Sesampainya di kampus, Alice dan Helena bertemu dengan Ivan di halaman depan kampus. Helena seakan tahu apa yang akan terjadi langsung berpisah dengan alasan ingin menemui dosen. Alice yang bingung hanya menggeleng pelan, ada-ada saja. Lalu ditatapnya Ivan yang lebih tinggi darinya. "Ivan, ada apa?" tanya Alice ramah. "Kau jadi kan aku temani ke tempat ibumu?" Ivan malah balik bertanya, Alice mengangguk. Ya, Ivan adalah kekasih pertama Alice. Baginya, Ivan adalah lelaki satu-satunya yang baik namun tegas dalam bertindak. Selera Alice tentang laki-laki memang begitu, dia ingin mempunyai lelaki yang tegas namun baik terhadap sesama. Dan sekarang, laki-laki yang dia idamkan sudah berada di depan matanya.

"Kau benar-benar ingin melakukannya, Alice?" tanya Ivan lagi. Alice hanya tersenyum sambil berjalan pelan, "Aku ingin ibu melihatku bermain biola.".

Ya, Alice ingin bermain biola di hadapan ibunya.

--x--

Setelah jam kuliah Alice selesai, dia langsung menemui Ivan. Mereka akan pergi ke salah satu taman makam di London, di mana ibu dari Alice dikuburkan di sana. Alice melihat Ivan yang sudah berada di dalam mobil, dia langsung berlari menghampiri mobil itu. "Ivan, kau kuliah siang kan?" tanya Alice setelah masuk ke dalam mobil Ivan. "Iya, kira-kira sejam lagi. Tapi aku sengaja datang ke kampus dari pagi." jawab Ivan. Alice hanya menggumam pelan, tanda mengerti. Setelah semuanya beres, mereka pun pergi dari kampus.

Sepi, hanya beberapa orang yang berada di taman makam itu. Alice sudah sampai di taman makam dan sudah tepat berada di depan makam ibunya. Berbekal tas biola dan sebuket bunga, dia datang sendirian tanpa ditemani oleh kekasihnya. Buket bunga yang dibawanya dia taruh didekat nisan sang ibu. Kemudian dia bersimpuh, berdoa untuk arwah ibunya di surga sana.

Setelah berdoa, Alice langsung berdiri dan mengeluarkan biolanya. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung memainkan sebuah lagu yang bernada rendah dan membuat hati terasa tenang. The Most Important Things Lie Behind Your Eyelids(*), judul yang panjang namun lagunya cukup menyentuh hati. Alice memainkan lagu tersebut dengan anggun dan indah. Bahkan beberapa orang yang sedang berziarah di situ pun berdiam diri sejenak untuk mendengarkan suara alunan biola yang sedang dimainkan Alice.

"Ibu, inilah aku yang sekarang. Aku sudah bisa menjadi seorang pemain biola. Meskipun belum seperti ibu, tetapi ini merupakan langkah awalku. Dan aku ingin ibu melihatnya." Alice berkata-kata sambil terus memainkan biolanya. Setelah selesai memainkannya, terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Ternyata itu adalah Ivan. Alice tersenyum lalu membungkuk hormat ke depan makam sang ibu, bagaikan sedang pentas di atas panggung.

"Mother, I'll always love and miss you forever.."

---x---


Keterangan:
(*) Royal College of Music benar-benar ada di London, Inggris. Kampus tersebut telah berdiri sejak tahun 1882.
(*) lagu tersebut adalah terjemahan ke bahasa Inggris dari judul lagu Daiji na Mono wa Mabuta No Ura (atau dalam bahasa Indonesia berarti “Hal Terpenting yang Terletak di Belakang Kelopak Matamu”) yang dinyanyikan oleh Kokia.

Nah, gimana? Mohon komentarnya~ untuk lebih lengkapnya, silakan klik link di bawah ya ^^

[ http://azumioctania25.deviantart.com/art/ITC-Fiction-Violin-is-My-Soul-182737868 ]

Cerpennya udah jadi deh, abis itu aku iseng aja minta gambarin chara-nya ke
Kei-sensei. Dia itu temenku di sekolah, lebih tepatnya temen otaku yang baru berteman pas ngumpul di IT Club. Dia juga punya deviantART, kebetulan banget! XD

Akhirnya dia mau ngegambarin, padahal aku gak maksa lho. Dia udah gambar Alice, Ivan, sama Brian. Helena dia gak bisa gambar, katanya dia gak bisa gambar shoujo 8D

Mau liat? Ini dia!



Alice & Ivan by Kei-sensei aka Zackdevas


Gambar Brian di belakangnya, jadinya susah dipotret. Ini aja ya, lagian mereka berdua ini main chara-nya 8D *plakk*

Dan mulai sekarang, kalo misalnya ada foto-foto hasil jepretanku yang diposting ke sini, aku bakalan kasih linkmark biar gak ada yang ngeklaim *halah* kayak foto yang di atas itu :)

Yosh, demikian entri kali ini. Semoga untuk kedepannya aku bisa aktif lagi di blog ini, hehe~ :D

Bubye minna! ^.^


2 comments:

AkaneD'SiLa said...

cerpen nya keren...
aku suka.
sering² ya
aku suka baca cerpen.
:D

Mizuhashi Azumi said...

Hehe.. sebenarnya ini untuk majalah sekolah lho, tapi entah kenapa ntu majalah belum terbit-terbit.. orz

Amiin~ semoga aku bisa bikin cerita yang lebih banyak lagi! Trims ya~ XD